Sementara itu ketika Ling Mei tengah berkumpul dengan walikota dan yang lainnya, tubuh Lynx perlahan mulai pulih. Meski tubuhnya memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri, proses pemulihan tidak semudah yang terlihat. Energi iblis yang sudah meresap ke dalam tubuhnya menghalangi kemampuan regenerasinya.

Namun, setelah dantiannya pulih seperti semula, energi iblis tersebut secara ajaib berubah seperti Qi, mengisi kembali dantiannya dan menjadi sumber kekuatan baru.

Jelita duduk di samping tempat tidur Lynx, air matanya perlahan jatuh, tetapi ia tak mampu mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Terlalu banyak beban dihatinya sejak mereka tiba di dimensi ini. "Kita belum menemukan suku Surya, dan kamu justru terluka lagi," bisiknya dengan suara tercekat, menatap tubuh Lynx yang masih terbaring lemah. Jemarinya mengelus lembut rambut Lynx, pipinya basah oleh air mata. Cemas dan khawatir menyelubungi hatinya, sebuah perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.

Jelita menghela napasnya, "Xiao Ling, apakah kamu yang memberi tahu Ling Mei tentang hubungan kita? Bagaimana dia bisa mengatakan aku adalah istrimu? Apakah kamu yang menceritakan semuanya padanya, ataukah Tuan Zhen Huan yang mengungkapkan hal itu?" Jelita bertanya, kebingungan meliputi hatinya. Hanya Zhen Huan pemilik Paviliun Api Emas yang mengetahui tentang hubungan Lynx dan Jelita sebagai suami istri di Desa Lianhua.

Satu sisi hatinya terasa lega dan hangat saat mendengar Ling Mei menyebutnya sebagai istri Xiao Ling. Kenangan selama tiga tahun hidup sebagai istri Lynx di Desa Lianhua kembali terlintas dalam benaknya. Namun, di sisi lain, ia sadar bahwa semua itu hanyalah masa lalu yang tak dapat ia genggam lagi. Lynx, bahkan dalam keadaan kehilangan ingatan, tetap memikirkan Leena. Tatapan dan ekspresi wajahnya selalu mencerminkan bayangan sosok itu, seolah tak pernah benar-benar hilang dari hatinya.

"Apakah sesuatu terjadi di antara kau dan Ling Mei selama perjalanan? Mengapa dia begitu perhatian kepadamu?" bisik Yun Qing pelan, suaranya dipenuhi kebingungan. "Aku bisa melihat kekhawatiran di wajahnya... yang biasanya dingin."

Pikirannya kembali pada bagaimana Ling Mei merawat Lynx sebelumnya. Wanita yang selalu terlihat tenang dan tak mudah menunjukkan emosi itu kini tampak begitu peduli, bahkan nyaris tak berpaling darinya.

Di saat berbagai pikiran berkelebat di benaknya, jari-jarinya tetap mengelus rambut Lynx tanpa sadar. Ia tak menyadari bahwa perubahan kecil mulai terjadi. Wajah Lynx yang sebelumnya pucat perlahan mendapatkan kembali warna alaminya. Napasnya, yang semula tersengal-sengal, kini teratur dan stabil. Tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan energi iblis yang kini telah menyatu dalam dirinya, memperbaiki meridian dan saraf-saraf yang sebelumnya rusak. Regenerasi berlangsung lebih cepat dari sebelumnya, dan dalam waktu singkat, kesadarannya pun kembali.

Namun, Yun Qing masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia sibuk merapikan barang-barang yang digunakan Ling Mei untuk merawat Lynx, sehingga ia tak menyadari bahwa pria itu telah membuka matanya.

Lynx perlahan bangkit, merasakan tubuhnya yang kini jauh lebih baik. Kekuatan dalam dirinya telah kembali seperti semula, bahkan terasa lebih padat dan terkendali. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Dengan mata terpejam, ia memusatkan kesadaran ke dantiannya. Di sana, energi iblis yang sebelumnya menghambat pemulihannya kini berdiam dengan tenang, menyatu dengan Qi-nya dan mengalir ke seluruh tubuhnya. Meski belum cukup untuk meningkatkan ranah kultivasinya, ia dapat merasakan energi tersebut dapat memberikannya kekuatan tambahan.

Lynx mengepalkan tangannya, merasakan aliran energi baru yang menyebar dari dalam dirinya. Namun, sebelum ia bisa merenungkan lebih jauh, matanya perlahan terbuka, menangkap sosok Yun Qing yang masih tak menyadari perubahan dirinya. Wajahnya dipenuhi air mata yang jatuh perlahan, mencerminkan rasa khawatir yang mendalam.

Lynx menatapnya dengan perasaan campur aduk. Dalam hati, ia berbisik, "Lagi-lagi aku membuatmu khawatir."

Saat itu, Yun Qing merasakan gerakan halus dari tubuh Lynx. Tanpa berpikir panjang, ia menoleh dengan mata membesar, ekspresi terkejut bercampur harapan. "Kepala suku, kau sadar!" serunya refleks, seolah baru saja menemukan harapan yang sempat hilang.

Lynx tersenyum tipis, sorot matanya hangat. "Kau masih memanggilku kepala suku, ya?" ucapnya, nada suaranya lembut namun menyiratkan sedikit godaan.

Wajah Yun Qing langsung memerah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Xiao Ling, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanyanya, suaranya sarat kecemasan. "Aku belum sempat bertanya kepada Ling Mei karena mereka sedang rapat membahas energi iblis yang masih mengamuk."

Lynx mengangguk pelan, sedikit lega. "Ling Mei… dia baik-baik saja? Syukurlah," ujarnya tulus, tanpa menyadari bahwa ekspresi Yun Qing berubah sesaat. Ada jejak cemburu di matanya ketika mendengar Lynx mengkhawatirkan orang lain.

Namun, tak ada waktu untuk membahasnya lebih jauh. Dengan cepat, Lynx bangkit dan menatap Yun Qing dengan serius. "Yun Qing, aku harus segera pergi menghentikan energi iblis. Tunggu aku di sini," katanya tegas, meski tubuhnya baru saja pulih.

"Tunggu, tubuhmu…" Yun Qing refleks mencoba menahannya, tetapi sudah terlambat. Dalam sekejap, tubuh Lynx telah melesat cepat, meninggalkan ruangan tanpa suara. Keheningan menyelimuti tempat itu, dan Yun Qing hanya bisa menatap kosong ke arah kepergiannya.

Di luar, matahari siang bersinar terik, membiaskan cahaya ke seluruh kota. Lynx bergerak dengan kecepatan penuh, menerobos jalanan yang dipenuhi penduduk yang ketakutan. Energi iblis masih berkeliaran, mengancam segalanya. Ia mengepalkan tangannya, tekad membara dalam dirinya. "Aku harus segera menyelesaikan urusan di kota ini… dan memastikan apakah Ling Mei benar-benar Leena. Aku harus membawanya pulang ke dunia kami."

Ia berdiri tegak di atas salah satu atap rumah penduduk, matanya terfokus pada Kota Huoling yang terhampar di bawahnya. Terik matahari menyinari wajahnya, tetapi sinarnya tertahan oleh kabut hitam yang berasal dari energi iblis yang masih menyelimuti kota.

Energi iblis kembali berusaha meresap ke dalam tubuh Lynx, namun kali ini ia tidak lagi merasakan perlawanan dari dalam dirinya. Ada sesuatu yang berbeda. Energi yang sebelumnya selalu di tolak oleh kekuatan tubuhnya, kini seolah menyatu dengannya, mengalir lancar ke dalam dantiannya. Bukan lagi rasa sakit yang menyerang, melainkan kekuatan yang tumbuh semakin stabil, seakan energi itu telah menjadi bagian dari dirinya.

Lynx memperhatikan keadaan kota yang hancur. Lynx juga dapat merasakan masih ada banyak penduduk yang bersembunyi didalam rumah. "Sepertinya karena terjadi di malam hari, mereka kebanyakan berada didalam rumah, sehingga mereka bisa bersembunyi dan kebetulan energi iblis tersebut tidak mengenai mereka."

Lynx menutup matanya sejenak, berfokus pada aliran energi iblis di dalam tubuhnya. Ia merasakan bagaimana energi iblis yang menyusup kini terkumpul rapi di dantiannya, berputar seperti pusaran kecil yang semakin lama semakin kuat.

Dengan konsentrasi penuh, ia mulai menarik sisa energi iblis yang masih berkeliaran di Kota Huoling. Udara di sekelilingnya bergetar, kabut hitam yang beterbangan perlahan tertarik ke arahnya, mengalir deras menuju dantiannya yang baru saja pulih. Tubuhnya terasa semakin ringan, seolah setiap partikel energi iblis yang diserap semakin memperkuat dirinya.

"Bagus," pikir Lynx dalam hati. "Sekarang aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan energi iblis ini. Selain itu, dengan ini aku dapat dengan mudah melacak keberadaan mereka yang menggunakannya dan melenyapkan mereka sebelum meninggalkan dimensi ini."

Ia menghela napas, lalu memejamkan mata, melepaskan kepekaannya ke seluruh penjuru kota. Perlahan, ia merasakan denyut energi iblis di tempat yang sangat jauh, lebih pekat dan lebih kuat dibandingkan dengan yang ada di sini. Namun, di sisi lain, dari arah bukit di luar Kota Huoling, aliran energi iblis terus bermunculan, seperti sumber yang tak henti-hentinya mengeluarkan dan menyebarkan ke kota ini.

"Akan kuurus itu nanti, setelah menyelesaikan yang ada di sini," gumamnya, sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada bukit diluar kota yang masih diliputi sisa-sisa kegelapan.

Tanpa membuang waktu, Lynx segera melesat menuju bukit tempat artefak yang menjadi gerbang dunia kecil berada. Ia dapat merasakan dengan jelas keberadaan portal yang masih terbuka, memancarkan energi iblis yang terus menyebar ke sekitarnya.

